Cara Mengatasi Anak Tantrum – Kalau kamu lagi di fase mengasuh anak usia balita, kemungkinan besar sudah akrab dengan fenomena yang satu ini: tantrum. Teriak, nangis, guling-guling, lempar barang, sampai drama level sinetron, paket lengkap pokoknya.
Tantrum sendiri bukan tanda anak nakal, kurang ajar, atau cari perhatian. Menurut psikolog perkembangan, tantrum adalah cara anak meluapkan rasa frustrasi karena belum bisa mengekspresikan emosi lewat kata-kata secara matang. Fase ini wajar banget dan umumnya muncul di usia 1,5 — 4 tahun.
Kabar baiknya, tantrum bisa dikelola. Kabar kurang enaknya… ya butuh kesabaran ekstra. Tapi tenang, di bawah ini ada tips yang realistis, evidence-based, dan sudah terbukti dipakai banyak orang tua.
1. Tetap Tenang (Walaupun Hatinya Berantakan)
Cara mengatasi anak tantrum yang pertama adalah reaksi orang tua itu kunci. Anak belajar mengatur emosi dari orang tua, dan kalau kita panik, marah, atau ikutan naik nada suara, situasi justru makin memanas. Kalimat yang cocok seperti “Mama ngerti kamu lagi kesel, tapi mama di sini dulu ya.”
Kedengarannya simpel, tapi dalam jangka panjang ini membantu anak membangun emosional self-regulation.
2. Validasi Perasaan Anak
Bukan berarti kamu harus setuju apa pun keinginannya. Tapi mengakui emosinya itu penting. Contoh yang salah “Udah ah, lebay banget!” dan contoh yang benar seperti ini “Kamu lagi sedih karena mainannya rusak ya?”
Validasi bikin tantrum nggak makin membesar karena anak merasa didengar.
3. Hindari Memberi Reward untuk Tantrum
Memberi reward untuk tantrum jelas ini adalah kesalahan umum. Anak tantrum, lalu orang tua langsung kasih apa yang anak mau biar diem.
Masalahnya, ini bisa memperkuat ulang perilaku tantrum karena anak belajar “Oh, kalau aku teriak, aku dapat apa yang aku mau.” Jadi cara mengatasi anak tantrum yang ketiga adalah hindari memberi reward ketika anak sedang tantrum hanya karena agar mau diam.
Baca Juga: Tips Parenting Anak: Cara Mendidik Anak dengan Sehat & Empatik
4. Ajak Anak Menamai Emosinya
Ini konsep emotional labeling, terbukti membantu anak belajar mengontrol respons. Kalimat seperti “Kamu marah ya? Kamu pengen main lagi?” Ini bikin emosi terasa lebih “terstruktur” buat anak.
5. Gunakan Teknik Distraction
Cara mengatasi anak tantrum berikutnya adalah menggunakan teknik distraction, terutama di usia 1–3 tahun, distraksi adalah senjata ampuh.
Contoh:
- ganti kegiatan
- ajak pindah ruangan
- kasih benda sensory
6. Terapkan “Calm Corner” di Rumah
Bukan “pojok hukuman”, tapi ruang aman untuk menenangkan diri.
Isi dengan:
- bantal
- sensory toy
- buku gambar
- kartu emosi
Model ini sering dipakai sekolah Montessori & TK modern.
7. Batasi Kata “Tidak” yang Minim Konteks
Orang tua sering refleks bilang “nggak boleh!” tanpa memberikan alternatif. Contoh pengganti “Boleh main air sebentar, tapi di kamar mandi ya.”
Jadi, cara mengatasi anak tantrum ini adalah bahwa anak itu action-based thinkers, mereka butuh tahu apa yang boleh bukan cuma apa yang nggak boleh.
8. Beri Pilihan (Supaya Anak Merasa Berdaya)
Tantrum kadang muncul dari rasa kehilangan kontrol. Berikan pilihan sederhana seperti “Kamu mau pakai baju merah atau biru?” Ini bikin anak merasa punya kontrol atas situasi.
9. Kenali Pemicu Tantrum
Setiap anak punya “trigger” sendiri. Contoh umum:
- ngantuk
- lapar
- overstimulated
- transisi aktivitas
Semakin kamu kenal, semakin mudah cara mengatasi anak tantrum.
10. Jauhkan Penonton
Tantrum di tempat umum bikin orang tua tegang. Kalau bisa, pindahkan ke tempat lebih tenang. Tekanan sosial sering bikin orang tua jadi reaktif.
11. Ajarkan Teknik Napas (Untuk Anak Usia 3+)
Ada teknik populer namanya “Blow the candle” yang bisa kamu lakukan untuk cara mengatasi anak tantrum. Berikut tekniknya:
- jari orang tua jadi lilin
- anak tiup perlahan
- ulang 3–5 kali
Anak merasa ini permainan, padahal dia sedang melatih sistem saraf untuk turun tensinya.
12. Konsultasikan ke Profesional Jika Tantrum Berlebihan
Kalau tantrum:
- frekuensinya sangat sering
- usianya di atas 5 tahun
- melukai diri sendiri/ orang lain
- mengganggu fungsi sehari-hari
sebaiknya konsultasi ke psikolog anak. Ini bukan aib, justru bentuk kepedulian.
FAQ Cara Mengatasi Anak Tantrum
1. Tantrum pada anak disebabkan oleh apa?
Biasanya karena frustrasi, kurangnya kemampuan komunikasi, rasa ingin mandiri, atau kebutuhan dasar (lapar/ngantuk) yang tidak terpenuhi.
2. Apakah tantrum itu normal?
Normal pada anak usia 1,5–4 tahun karena proses perkembangan regulasi emosi.
3. Apakah tantrum harus dibiarkan?
Tidak harus “dibiarkan” secara pasif. Yang penting adalah mengelola, bukan memarahi atau menyerah.
4. Kapan harus ke psikolog anak?
Jika tantrum mulai mengganggu keamanan, integrasi sosial, atau berlangsung di usia yang harusnya sudah lebih matang.
Penutup
Menghadapi tantrum itu melelahkan, tapi bukan akhir dunia. Yang terpenting: anak bukan sedang berusaha “menguji” orang tua — mereka sedang belajar mengenal dunia emosi yang kompleks.
Dan kamu nggak sendirian. Semua orang tua pernah ada di fase ini.
